Minggu, 14 Agustus 2016

Kunci Syurga

Kunci Surga atau Neraka ada didunia

kunci.jpg
Tujuan anda hidup setelah didunia pasti ingin masuk surga,  tak ada satu manusiapun bahkan walaupun dia seorang kafir pasti menginginkan kehidupan yang nikmat didalam surga. Apakah ada yang ingin masuk neraka? Merasakan pedihnya adzab didalam neraka? Segala perbuatan kita selama hidup di dunia ini akan membawa kita menjadi penghuni surga atau neraka. Pilihan ada pada kita, tetapi taufiq dan hidayah hak Allah azza wa jalla yang memilikinya, kita memohon untuk hidayah dan taufiq untuk keselamatan didunia dan akhirat.
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka“.[Q.S. Al Baqarah : 201]
Jika ingin menjadi penduduk surga gunakanlah kunci surga yang ada didunia dan jika kunci surga tidak digunakan maka dengan sendirinya kunci neraka sudah ditangan anda.
Laksanakan petunjuk Rasullullah shallallahu allaihi wasalam, yaitu :
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Dalam Al Quran surat ke 59 (Al Hasyr)
…وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
…… apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.[Q.S. Al Hasyr : 7]
Dan dalam Al Quran surat ke 33 (Al Ahzaab)Allah telah memberikan jalan untuk mendapatkan kunci surga itu yaitu :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا[70] يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[71]
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [Q.S. Al Ahzaab : 70-71].
Serta dalam Al Quran surat ke 4 (An Nisaa)
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
 Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. [Q.S. An Nisaa : 80]
Dengan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wata’ala (melakukan semua perintah Allah dan tidak melakukan semua yang dilarang Allah), berakhlak mulia ( ittiba’ kepada Rasullullah shallallahu alaihi wasalam dengan meneladani, mencontoh, semua perkara dari Rasullullah shallallahu alaihi wasalam), berarti kunci surga sudah ditangan.
Allahu A’lam.
by  
Artikel : www.hisbah.net

Rabu, 22 Juni 2016

Saling Pengertian; Akhlak yang Mulia. Bimbingan Keluarga

Saling Pengertian; Akhlak yang

Saling-Pengertian-Akhlak-yang-Mulia.jpg
Saling pengertian merupakan bagian perkara penting yang menjadi kunci sukses dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam hubungan antara seorang suami dengan istrinya, antara orang tua dengan anaknya maupun hubungan antara anggota keluarga lainnya.
Nah, agar tercipta saling pengertian dalam kehidupan rumah tangga, maka setiap pribadi harus berhias diri dengan akhlak yang mulia. Karena, akhlak yang mulia itulah yang menjadi modal dasar baiknya hubungan antar anggota keluarga ; suami dengan istrinya, orang tua dengan anaknya.
Untuk itu, berikut ini penulis sebutkan beberapa akhlak mulia yang hendaknya diupayakan oleh setiap anggota keluarga untuk menjadikannya sebagai hiasan dirinya.

1 Pemaaf

Allah  telah berfirman,
وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Qs. Ali Imran : 134)

2 Santun (tidak pemarah)

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Nabi  bersabda kepada Asyaj Abdul Qais,
إِنَّ فِيْكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ
Sesungguhnya di dalam dirimu terdapat dua pekerti yang disukuai Allah, yaitu sikap santun dan penyabar (HR. at-Tirmidzi, No.  2011)

3 Saling menyayangi

Rasulullah  bersabda,
اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Tuhan yang Maha pemurah, sayangilah penduduk bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh penduduk langit (HR. at Tirmidzi, No. 1924)

4. Sabar

Kemampuan dan bakat masing-masing anggota keluarga itu beragam. Agar tercipta sikap saling pengertian di antara mereka, maka diperlukan sikap sabar. Sikap sabar ini lebih utama adalah dalam kehidupan rumah tangga untuk mewujudkan sikap saling pengertian antara anggota keluarga. Dalam seminar internasional Pemuda Islam telah dinyatakan : “Di balik beragamnya pendapat manusia, ada hikmah Allah, baik berkaitan dengan masalah kecil maupun persoalan besar, dan berkaitan dengan persoalan duniawi maupun urusan agama. Penyebab adanya hal seperti ini adalah karena mereka diciptakan dengan memilki tingkat pemahaman dan ilmu pengetahuan yang beragam. Sebagaimana mereka diciptakan memiliki kemampuan bakat dan dan keinginan yang beragam, mereka juga memiliki kelemahan dan kekuatan yang beragam pula. Selain itu mereka pun berbeda-beda dalam hal kesabaran, baik dalam hal menuntut ilmu maupun pengalamannya (Fii Ushul al-Hiwar, makalah pada Seminar Internasional Pemuda Islam, hal. 25)

5 Mau meminta maaf

Sikap mau minta maaf akan dapat menghapuskan kesalahan dan mengembalikan anggota keluarga yang bersangkutan kepada jalan yang benar. Sikap mau minta maaf menunjukkan adanya kesadaran akan kesalahan sebelum kesempatan meminta maaf berakhir. Sikap ini juga dapat membuat hati menjadi tenang, mengembalikan sikap saling menghargai, dan menunjukkan kekuatan dan keberanian seseorang. Selain itu sikap ini menunjukkan adanya keinginan untuk mewujudkan ketenangan hati anggota keluarga dan keinginan agar perasaan cinta antara anggota keluarga terus tumbuh. Imam Syafi’i berkata, mengenai hal ini dalam syairnya:
Dikatakan kepadaku
Bahwa si fulan telah berbuat buruk kepadamu.
Kedudukan seorang pemuda
Yang melakukan perbuatan hina adalah sebuah aib.
Aku katakan bahwa orang itu telah mendatangiku dan telah meminta maaf.
Kompensasi sebuah dosa pada saat seperti itu adalah permohonan maaf

6. Tidak bersikap egois

Rasulullah bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Belum sempurna iman salah seorang dari kalian sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri (Muttafaq ‘alaihi)
Menghilangkan sikap egois dari diri masing-masing anggota kelaurga dan mencintai anggota keluarga yang lainnya seperti mencintai dirinya sendiri dapat menjadi penopang terciptanya sikap saling memahami di antara mereka. Sikap ini juga dapat membuat setiap individu merasakan cinta anggota keluarga lainnya. Dia akan berusaha memposisikan dirinya pada posisi anggota keluarga yang lainnya dan melihat segala sesuatu dengan kacamata yang digunakan oleh mereka. Jika telah seperti ini, akan mudahlah untuk menciptakan adanya kesepahaman di antara mereka, sikap saling pengertian, dan memperoleh serta menumbuhkan rasa cinta sejati.
Sumber : Disarikan dari, “ هكذا يبلغ الحب بينهما- دليلك إلي السعادة الزوجية  “ , Hakadza Yablughu al-Hubbu Bainahuma, Daliluka Ila as-Sa’adah az-Zaujiyyah, Fath-hi Muhammad ath-Thahir Ghayati, Edisi Bahasa Indonesia : Beginilah Seharusnya Suami Istri Saling Mencintai, hal. 339-368.
Amar Abdullah
Artikel : www.hisbah.net

Senin, 06 Juni 2016

Hadiah Untuk Masuk Surga


Hadiah-Nabawiyah.jpg
Saudariku Muslimah
Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya-, ia berkata, Rasulullah  bersabda,
إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Apabila seorang wanita (menjaga) shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, niscaya akan dikatakan kpeadanya, “ masuklah ke dalam  Surga dari pintu mana saja yang dia sukai (HR. Ahmad, 1/191, Abu Nu’aim 6/308 dalam al-Hilyah dari hadis Ibnu Auf, Ibnu Hibban, no. 4151, dari hadis Abu Hurairah dan ath-Thabraniy dalam Majma’ 4/307 serta al-bazzar)
Saudariku muslimah …
Ketika engkau merenungkan hadiah nabawiyah ini, engkau mendapati keutamaan yang besar dan kebaikan yang menyeluruh bagi  siapa yang menerima tuhfah (hadiah) itu dan melaksanakan kandungannya.
Didalam tuhfah (hadian) nabawiyah yang ada di hadapan kita ini, Rasulullah ﷺ menjelaskan kepada para wanita muslimah sebab-sebab yang bisa mengantarkan mereka meraih surga Allah.
Kita bisa ringkas sebab-sebab itu dalam empat poin berikut :
  1. Shalatnya seorang wanita setiap lima waktu
  2. Puasanya seorang muslimah pada bulannya
  3. Kesucian seorang wanita dengan dengan menjaga kehormatannya
  4. Ketaatan kepada suami dalam hal-hal yang bukan maksiat kepada Allah
Suadariku muslimah
Kalau kita renungkan bersama-sama setiap sebab dari sebab-sebab di atas, engkau akan mendapati bahwa sebab-sebab di atas adalah amalan-amalan yang ringan. Akan tetapi kebanyakan wanita kurang memperhatikannya.
Sumber :
Dinukil dari “ Tuhfatu an-Nisa”, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid, Edisi Bahsa Indonesia : Bingkisan Istimewa bagi Muslimah,  hal 74-78.
Amar Abdullah
Artikel : www.hisbah.net

Beberapa Pelajaran Penting dibalik Amar Ma’ruf Kepada Anak


Pelajaran-Penting-dibalik-Amar-Makruf-Kepada-Anak.jpg
Masa depan suatu generasi ada pada tangan anak-anak yang kelak akan menjadi penerus bagi orang tua, suatu ummat akan maju jikalau anak-anak mereka dididik sejak dini agar kelak ketika mereka tumbuh besar bisa menjadi penerus yang baik bagi generasi sebelumnya. Dengan demikian maka sudah seyogyanya anak diajari dan diperintahkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam agama islam, dan ini adalah salah satu bentuk dari amar ma’ruf, namun sebagian orang beranggapan bahwa amar ma’ruf hanya untuk ditujukan kepada orang yang sudah baligh saja dan bukan untuk anak kecil karena pena pencatat amal belum berlaku sebelum mereka baligh, dan kami sudah menjawabnya pada artikel; ‘Adakah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Terhadap Anak Kecil?’.
Dalam artikel ini kami ingin menyebutkan beberapa point yang berkaitan dengan Amar Ma’ruf kepada anak kecil dari kitab ‘Al-Ihtisab ‘Alal-Athfal’ karya DR. Fadhl Ilahi Dzahir:
Pertama, salah satu hadits yang sangat jelas dan dijadikan sandaran oleh para ulama akan perintah kepada wali anak baik orang tua atau yang mewakilinya untuk menyuruh anak melaksanakan kewajiban agama walau belum baligh adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
 مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud & Ahmad).
Dalam hadits diatas nabi shallallahu alaihi wa salam memerintahkan orang tua atau wali anak untuk memerintahkannya sholat dengan ketentuan yang telah disebutkan dalam hadits, Imam Ibnu Abdissalam berkata, “perintah ini ditujukan kepda wali anak dan bukan kepada sang anak.”
Imam Nawawi berkata, “perintah untuk menyuruh dan memukul ini (dalam hadits ini-red) adalah kewajiban bagi wali anak baik ayahnya atau kakeknya, atau kakaknya, atau orang yang telah ditentukan oleh hakim untuk mengasuhnya. Pendapat ini sudah diungkapkan secara gamblang oleh ulama-ulama lain seperti pengarang kitab Asy-Syamil dan Al-‘Uddah dan beberapa ulama lain. Sedangkan dalil yg dijadakan sandaran oleh pendapat ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَأمُر أَهلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat…” (QS. Thaha: 132).
Kemudian juga firmanNya:
قُواْ أَنفُسَكُم وَأَهلِيكُم نَارا
“…Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).
Kemudian Imam Nawawi mengatakan, “kawan-kawan kami dari para ulama mengatakan; wali anak juga harus memerintahkan anaknya untuk sholat berjamaah, memakai siwak, dan seluruh kewajiban-kewajiban dalam agama…”
Kedua, perintah nabi diatas tidak hanya tertuju kepada ayahnya saja, tetapi juga tertuju kepada ibunya juga, karena seorang ibu adalah pemimpin bagi anak-anaknya, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda:
والمرأةُ رَاعِيَّةٌ على بيتِ زوجِها وَوَلَدِهِ, فكلّكم راعٍ وكلّكم مسئولٌ عنْ رَعِيَّتِهِ.
“…Demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Dan kalian semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungtawaban atas kepemimpinan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, diantara hikmah terpenting dibalik perintah menyuruh anak untuk sholat atau mengerjakan kewajiban-kewajiban agama lainnya walaupun sebelum baligh adalah agar mereka terbiasa dan tidak merasa berat setelah baligh, karena anak yang masih kecil bagaikan kertas putih, dan yang orang tualah yang akan menulis di kertas tersebut.
Keempat, wali anak hendaknya bertahap dalam menyuruh atau menghukum anak, tidak memukul sebelum memberi peringatan, tidak menghardik sebelum menasehati, dan tidak menyalahkan sebelum mengajari yang benar dan tahu alasan anak melakukan kesalahan sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Kelima, jika suatu waktu anak perlu ditindak dengan dipukul karena melanggar aturan atau tidak melaksanakan printah setelah diingatkan, maka boleh memukulnya dengan pukulan yang TIDAK mencederai atau meninggalkan bekas yang parah apalagi sampai mematahkan tulang, karena tujuan dari memukul anak adalah untuk memberinya pelajaran dan menunaikan kewajiban sebagai orang yang diberi amanah dan bukan untuk melampiaskan nafsu amarah. Syeikh Al-Alqamiy berkata, “yang dimaksud dengan memukul (dalam hadits diatas) adalah memukul dengan pukulan yang tidak mencederai.” Syeikh Ibnul Ukhuwwah juga berkata, “seorang anak tidak seharusnya dipukul dengan tongkat yang besar yang dapat mematahkan tulang atau dengan pemukul yang terlalu kecil yang pukulannya tidak terasa sama sekali, tetapi yang berukuran sedang. Begitu juga memukulnya harus dibagian yang tidak membahayakan seperti memukulnya di bagian yang ada dagingnya atau di bagian paha atau kaki bagian bawah, karena memukul bagian-bagian tersebut biasanya tidak membahayakan.”
Wallahu a’lam
Dipetik dari kitab ‘Al-Ihtisab ‘Alal-athfal’ karya Syeikh Fadhl Ilahi Dzahir hal. 20-25
Oleh: Arinal Haq
Artikel : www.hisbah.net

PERUMPAMAAN ORANG BERILMU DAN BERAMAL

Seorang yang Mengajarkan Ilmu Seperti Tanah yang Subur

Seorang-Yang-Mengajarkan-Ilmu-Seperti-Tanah-Yang-Subur.jpg
Ilmu adalah amanah dan rezeki maknawi yang Allah berikan kepada hamba-hambanya yang dikehendakinya, oleh karena itu orang yang berilmu patut bersyukur atas ilmu yang dimilikinya karena ia adalah rezeki yang tidak semua orang memilikinya. Namun rezeki yang lebih dari sekedar memiliki ilmu adalah mengamalkan ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada orang lain, dan hal tersebut tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang diberi taufik oleh Allah subahanahu wa ta’ala. Oleh karena itu Agama islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbagi ilmu yang bermanfaat dan tidak membiarkannya berhenti pada diri sendiri tanpa menyampaikannya kepada orang lain.
Dalam suatu hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa salam mengumpamakan seseorang yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya kepada orang lain seperti tanah subur yang mengambil manfaat dari air hujan lalu memberikan manfaat kepada makhluk-makhluk sekitarnya dengan menumbuhkan beraneka ragam tumbuhan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ مِنَ الْـهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْـمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيْرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْـمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوْا وَأَصَابَ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيْعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِيْ دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَـمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَـمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ.
Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya laksana hujan deras yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yaitu yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutus aku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.” [HR. Bukhari & Muslim]
Dalam menjelaskan hadits ini Imam Ibnu Hajar menukil dari Imam Al-Qurthubi beliau berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengumpamakan agama islam yang dibawanya seperti hujan yang mengenai semua makhluk dan sampai kepada seluruh manusia dikala mereka memerlukannya,  kemudian mengumpamakan orang-orang yang mendengar seruan agama islam seperti tanah yang bermacam-macam ketika menerima siraman air hujan, diantara orang-orang tersebut adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya lalu mengajarkannya kepada orang lain, orang yang seperti ini kedudukannya sama seperti tanah yang subur, ia menerima manfaat air hujan untuk dirinya dan menumbuhkan berbagai tumbuhan sehingga ia juga memberi manfaat kepada makhluq lainnya.” (Fathul Bari 1/177)
Hadits ini juga dijadikan dalil Oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam menyebutkan kemuliaan orang-orang yang menggabung antara menuntut, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu atau berdakwah. Beliau berkata, “Nabishallallahu alaihi wa sallam membagi manusia menurut hidayah dan ilmu mereka menjadi tiga tingkatan, tingkatan pertama adalah pewaris-pewaris para rasul dan penerus para nabi alaihimussholatu was salam, dan mereka adalah orang-orang yang beriman terhadap agama islam secara ilmu, amal dan dakwah. Merekalah pengikut para rasul yang sebenarnya, dan mereka kedudukannya sama dengan kelompok yang baik, mereka bagaikan tanah yang menerima air sehingga menumbuhkan tanaman dan dan rumput yang banyak sehingga ia suci dalam dirinya dan menyucikan orang lain dengan ilmu tersebut. Merekalah orang-orang yang menggabung antara pengetahuan yang dalam terhadap agama dan kekuatan dalam berdakwah, dengan demikian maka pantaslah mereka menjadi pewaris para nabi yang Allah firmankan:
وَٱذكُر عِبَٰدَنَا إِبرَٰهِيمَ وَإِسحَٰقَ وَيَعقُوبَ أُوْلِي ٱلأَيدِي وَٱلأَبصَٰرِ
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya´qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (QS. Shad: 45).
Ibnul Qayyim berkata, “maksudnya adalah ilmu yang tinggi dalam hal agama, yang dengan ilmu tersebut seseorang dapat mengetahui yang haq, dan dengan kekuatan seseorang dapat mengamalkan dan mengajarkan ilmu agama yang ia miliki.” (Al-Wabillus Shoyb hal. 73)
Wallahu a’lam bisshowab
Diterjemahkan oleh Arinal haq dari kitab ‘Fadhludda’wati Ilallah’ karya DR. Fadhl Ilahi Dzahir hal. 25-27
Artikel : www.hisbah.net

Kamis, 31 Maret 2016

Maksiat Jatuhkan Kehormatan

Maksiat Jatuhkan Kehormatan

Maksiat-Jatuhkan-Kehormatan.jpg
Allah SWT berhak memuliakan atau menghinakan siapa saja yang Ia kehendaki dari para hambanya, karena Dia lah yang maha memiliki kemuliaan mutlak. Allah SWT bisa memuliakan seorang budak hitam yang tidak memiliki kedudukan apapun dikalangan manusia menjadi seorang yang mulia seperti halnya sahabat Bilal bin Rabah. Allah SWT juga bisa menghina-dinakan seorang dari keturunan terhormat dan salah satu tokoh disegani dikalangan manusia seperti halnya Abu Lahab.
Allah SWT berfrman:
وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“…Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali-Imran: 26)
Kehormatan diri adalah suatu yang paling berharga dalam kehidupan manusia, bahkan ia lebih berharga dibanding harta dan tahta, bahkan sebagian orang menganggapnya lebih berharga daripada nyawa sekalipun…!!! sebagian orang mempertaruhkan nyawanya demi menjaga martabat dan harga dirinya. Apalah arti harta, jika tak ada harga diri?  Apalah arti tahta jika tanpa kehormatan? Bahkan sebagian orang menganggap nyawanya tak berguna jika hidup dengan kehina-dinaan. Begitu bernilainya suatu harga diri!.
Salah satu faktor terbesar yang mencemari harga diri kita adalah perbuatan maksiat. Perbuatan maksiat tak hanya membuat seorang hamba menanggung dosa kelak di akhirat, tapi ia juga menghinakan seseorang didunia. Oleh karena itu banyak orang yang melakukan maksiat melakukannya dengan sembunyi-sembunyi untuk tetap menjaga kehormatan dirinya, karena ia tahu bahwa maksiatnya itu membuatnya terhina dan menjatuhkan harga dirinya dimata orang lain. Sebagai contoh; orang yang menggunjing akan selalu berusaha untuk menyembunyikan pembicaraannya dari orang yang digunjingnya, orang yang berdusta akan berusaha menyembunyikan dustanya, orang yang mengintip aurat orang lain akan berusaha menyembunyikan perbuatannya. Itu semua karena maksiatmenjatuhkan harga diri seseorang!!!
Ini adalah salah satu hukuman Allah kepada para pelaku maksiat yang Allah dahulukan didunia, yaitu ‘kehinaan’ atau ‘jatuhnya harga diri’!!! hanya saja terkadang kita tidak menyadarinya.
Hukuman ini hanyalah salah satu dari banyak hukuman yang Allah timpakan kepada para pelaku maksiat didunia yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab ‘Al-Jawabul Kafi.’
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
Diantara hukuman dari perbuatan maksiat adalah jatuhnya harga diri, kehormatan, dan kedudukan baik disisi Allah SWT atau di mata para hambanya. Karena hamba yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa, dan hamba yang kedudukannya paling dekat dengan Allah adalah yang paling taat.
Kedudukan hamba disisiNya tergantung pada kadar ketaatannya, jika hamba tersebut melanggar perintahnya maka kedudukannya akan jatuh disisi Allah, dan jika sudah demikian maka Allahpun akan menjatuhkannya dihati para hambanya, dan ketika ia sudah tidak memiliki kehormatan apapun di hati manusia, maka mereka akan memperlakukannya sesuai pandangan mereka kepadanya…” (Al-Jawabul Kafi).
Seorang penyair arab berkata:
لعمرك ما الإنسان إلا ابن دينه       #       فلا تترك التقوى اتكالا على النسب
فقد رفع الإسلام سلمان فارس       #       وقد خفض الجهل الوخيـم أبا لـهب
Demi jiwamu, seorang manusia bukanlah siapa-siapa selain anak agamanya,
Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan dengan mengandalkan keturunan,
Islam telah mengangkat Salman Al-Farisi,
Sedangkan Abu Lahab telah direndakan oleh kebodohannya yang tercela.
Penyusun: Arinal Haq
Artikel : www.hisbah.net