Selasa, 22 Oktober 2024

KONEKSI ANTAR MATERI - Modul 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 kepada semua rekan guru dan siswa yang saya hormati,

Perkenalkan, nama saya Miftahul Anwar, saya mengajar di SD Labschool Cibubur. dan saya saya adalah Calon Guru Penggerak (CGP) angkatan 11.  dan pada kesempatan ini Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya percaya bahwa setiap orang memiliki potensi  yang perlu didukung dan dikembangkan. Oleh karena itu, Saya mengajak bapak ibu  semua untuk aktif berpartisipasi dalam setiap proses pembelajaran. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengetahuan tentang Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin.

Demikian perkenalan dari saya. Mari kita mulai perjalanan belajar ini dengan semangat dan keyakinan bahwa kita bisa mencapai pengfalaman yang terbaaik Terima kasih.


Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan salah satu aspek penting dalam peran seorang pendidik, khususnya bagi seorang guru penggerak yang berorientasi pada siswa. Seorang guru penggerak diharapkan mampu membuat keputusan yang tidak hanya berdampak pada efektivitas pembelajaran, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan karakter dan potensi siswa secara menyeluruh.

Situasi dilema etika sering kali dihadapi oleh pemimpin pembelajaran maupun profesional dalam berbagai bidang. Dilema ini terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua nilai atau prinsip yang sama-sama penting, tetapi saling bertentangan. Berikut adalah penjelasan untuk masing-masing pola dilema etika yang sering muncul:

1. Individu lawan Kelompok (Individual vs Community)

Dilema ini terjadi ketika ada pertentangan antara kepentingan individu dengan kepentingan kelompok. Seorang pemimpin pembelajaran harus memutuskan apakah akan memenuhi kebutuhan individu atau fokus pada kepentingan yang lebih luas, yaitu komunitas atau kelompok.

Contoh: Seorang guru menghadapi dilema ketika ada seorang siswa yang memerlukan perhatian ekstra untuk dapat memahami materi, namun hal ini bisa mengorbankan waktu dan fokus bagi seluruh kelas. Keputusan ini melibatkan pilihan antara memberikan perhatian khusus pada individu atau menjaga keadilan bagi seluruh kelas.

2. Rasa Keadilan lawan Rasa Kasihan (Justice vs Mercy)

Dilema ini melibatkan pertentangan antara penerapan aturan secara adil dan memberikan kelonggaran berdasarkan belas kasih. Keadilan menuntut penerapan aturan yang sama untuk semua, sementara belas kasih mungkin mengharuskan adanya pengecualian atau penyesuaian berdasarkan kondisi atau situasi khusus.

Contoh: Seorang guru harus memutuskan apakah akan memberikan hukuman yang sama kepada semua siswa yang melanggar aturan, atau memberikan keringanan kepada seorang siswa yang mungkin memiliki alasan khusus (seperti masalah keluarga atau kesehatan) atas pelanggaran tersebut.

3. Kebenaran lawan Kesetiaan (Truth vs Loyalty)

Dilema ini muncul ketika ada konflik antara mengungkapkan kebenaran dengan menjaga kesetiaan kepada seseorang atau suatu kelompok. Dalam konteks pendidikan, hal ini bisa terjadi ketika seorang pemimpin pembelajaran harus memilih antara menyampaikan fakta yang mungkin merusak reputasi institusi atau menunjukkan loyalitas dengan melindunginya.

Contoh: Seorang guru mengetahui bahwa koleganya secara tidak sengaja membuat kesalahan yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Guru tersebut harus memilih antara melaporkan kesalahan tersebut demi kejujuran atau tetap setia pada rekan kerjanya dan menutupinya.

4. Jangka Pendek lawan Jangka Panjang (Short Term vs Long Term)

Dilema ini terjadi ketika seseorang harus memilih antara keuntungan jangka pendek dengan dampak jangka panjang. Terkadang, pilihan yang terlihat menguntungkan dalam jangka pendek mungkin membawa konsekuensi negatif di masa depan, dan sebaliknya.

Contoh: Seorang guru dihadapkan dengan dilema antara memfokuskan pembelajaran pada persiapan ujian untuk memastikan nilai siswa dalam jangka pendek, atau memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam namun mungkin tidak langsung terlihat dalam hasil ujian, tetapi bermanfaat untuk perkembangan jangka panjang siswa.

Dalam menghadapi dilema-dilema tersebut, seorang pemimpin pembelajaran perlu mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan yang diambil, mengutamakan nilai-nilai yang diyakini, serta melibatkan pemangku kepentingan lain dalam mencari solusi yang paling adil dan tepat.

Untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat Anda lakukan. 

Berikut adalah 9 langkah yang bisa diambil dalam proses pengambilan keputusan saat menghadapi dilema etika atau bujukan moral yang membingungkan, serta contoh aplikasinya pada dilema “Rasa Keadilan lawan Rasa Kasihan   dalam konteks pendidikan.

Langkah-langkah Pengambilan Keputusan Etis:

1.    Kenali Masalah nilai yang saling bertentangan  Langkah pertama adalah mengenali dan mendefinisikan masalah etis yang dihadapi. Tentukan nilai-nilai yang saling bertentangan.

Contoh: Seorang siswa melanggar aturan sekolah dengan menyontek selama ujian. Aturan sekolah menyatakan bahwa siswa yang menyontek harus diberi hukuman yang tegas. Namun, siswa ini mengalami masalah pribadi yang berat, seperti kehilangan anggota keluarga, yang membuatnya sulit berkonsentrasi pada ujian.

2.    Identifikasi Nilai yang Terlibat  dalam situasi iniIdentifikasi prinsip atau nilai etika yang saling bertentangan.

Contoh: Nilai yang bertentangan adalah keadilan (aturan harus ditegakkan secara merata bagi semua siswa) dan kasihan (mempertimbangkan kondisi pribadi siswa yang sedang dalam situasi sulit).

  1. Kumpulkan fakta Informasi yang Relevan Kumpulkan fakta tambahan yang bisa membantu memahami konteks lebih baik dan mempertimbangkan dampak jangka pendek dan jangka panjang dari setiap opsi.                                                                              
x

Contoh: Diskusi dengan siswa terkait masalah pribadinya, konfirmasi situasi dengan orang tua atau wali siswa, dan mencari tahu apakah situasi ini sudah berulang atau baru terjadi.

4.   Pengujian benar atau salah

a.    Uji Legal

Pertanyaan penting di uji legal ini adalah apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi itu? Bila jawabannya adalah iya, maka situasi yang ada bukanlah antara benar lawan benar (dilema etika), namun antara benar lawan salah (bujukan moral). Keputusan yang harus diambil dalam situasi adalah pilihan antara mematuhi hukum atau tidak, dan keputusan ini bukan keputusan yang berhubungan dengan moral.

b.    Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila situasi yang dihadapi adalah dilema etika, dan tidak ada aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada pelanggaran peraturan atau kode etik di  dalamnya. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

c.    Uji Publikasi

Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan menjadi viral di media sosial. Sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi publik? Coba Anda bayangkan bila hal itu terjadi. Bila Anda merasa tidak nyaman kemungkinan besar Anda sedang menghadapi benar situasi benar lawan salah atau bujukan moral.

d.    Uji Panutan/Idola

Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.

5.    Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi yang sedang Anda hadapi ini?

-          Individu lawan kelompok (individual vs community)

-          Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

-          Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

-          Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang Anda hadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama- sama penting.

6.    Melakukan Prinsip Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) 

Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) 

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

7.    nvestigasi Opsi Trilema

Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah Itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema.

8.    Buat Keputusan Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, buatlah keputusan yang paling etis dan bertanggung jawab.

Contoh: Guru memutuskan untuk memberikan bimbingan tambahan kepada siswa, sambil tetap memberlakukan peringatan agar siswa memahami bahwa menyontek tetap merupakan pelanggaran. Hal ini diharapkan memberi keseimbangan antara keadilan dan belas kasih.

9.    Evaluasi Keputusan yang Diambil Setelah keputusan dibuat dan dilaksanakan, lakukan evaluasi terhadap hasilnya. Apakah keputusan tersebut berhasil menyelesaikan masalah dengan adil? Apakah ada pelajaran yang bisa diambil untuk situasi serupa di masa depan?

Contoh: Guru mengevaluasi apakah siswa yang bersangkutan menunjukkan perbaikan dalam sikap belajar dan apakah tindakan ini memberikan dampak positif pada siswa lain dalam hal persepsi tentang keadilan di kelas.

Dengan menggunakan 9 langkah ini, proses pengambilan keputusan dalam menghadapi dilema etika menjadi lebih terarah dan berbasis pertimbangan yang matang, baik secara moral maupun berdasarkan dampaknya bagi seluruh pihak yang terlibat.


Rabu, 07 Februari 2018

Membiasakan Anak Untuk Shalat

Membiasakan Anak Untuk Shalat

Anak-shalat-jamaah-bw.jpg
Sebuah petuah arab mengatakan:
الأم المدرسة الأولى
“Seorang ibu adalah madrasah pertama”
Ya, sekolah yang pertama dan utama bagi seorang anak, darinya seorang anak mengetahui dan mengerti hal-hal dasar. Namun satu hal juga yang kita sepakati, berhasil atau tidaknya mendidik murid tergantung dari kualitas sang gurunya, maka dalam hal ini, kualitas keibuanlah yang sangat berpengaruh akan suksesnya pendidikan anak.
Mengajarkan anak-anak untuk menegakkan shalat meskipun mereka belum memasuki usia baligh adalah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:
( مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ )
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat sejak usia mereka tujuh tahun, dan beri pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan ranjang mereka”. (HR Abu Dawud & Ahmad)
Dan menimbulkan rasa cinta akan shalat pada diri anak-anak adalah dengan memberikan pengertian kepada mereka, agar melaksanakannya dengan penuh cinta karena menegakkan tiang agama dan tiada rasa terpaksa karena merasa disibukkan, berikut beberapa tips AlHisbah:
1. Shalat Adalah Perintah Pencipta Kita
Kita hidup karena ada yang menciptakan, maka sepantasnya kita harus menuruti setiap kata dari pencipta kita, sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya dan ungkapan rasa syukur telah diberikan oleh-Nya kehidupan yang sempurna ini, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Taha: 14)
2. Shalat 5 Waktu Adalah Hasil Perjuangan Nabi Kita
Ceritakan kepada anak kita kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yang mana pada awalnya kita diwajibkan untuk shalat 50 waktu, namun karena kasih sayang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada umatnya, maka beliau dengan saran Nabi Musa ‘Alaihissalam naik turun kembali menghadap Allah Ta’ala hingga akhirnya jumlah shalat hanya 5 waktu saja, namun pahalanya setara dengan shalat 50 waktu.
Maka, kita sebagai umat beliau, patut berbangga dengan jerih payahnya beliau, dan menghidupkan shalat 5 lima waktu setiap harinya karena kita adalah umat yang beliau perjuangkan diatas langit sana.
3. Shalat Adalah Tiang Agama
Agar bangunan kuat dan kokoh, bukan hanya harus memiliki tiang pondasi, namun juga harus kuat, maka sebagai persiapan untuk si anak menghadapi setiap episode dari kehidupannya di masa depannya, maka ajarkan ia untuk menguatkan tiang kerohaniannya, yaitu shalat sebagai tiang Islam.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامُ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ، وَحَجُّ الْبَيْتِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ. (رواه البخاري ومسلم)
“Islam dibangun diatas lima hal: Bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari-Muslim)
4. Shalat Adalah Pembeda
Jika ingin dikatakan sebagai muslim sejati, pakai jagalah shalat. Shalat bukan hanya sebagai pembeda antara muslim dan kafir, namun juga antara mukmin dan munafik yang mengaku-ngaku muslim namun menyepelekan urusan agama.
Maka dari itu, dengan membiasakan anak untuk mencintai shalat sejak dini, yang Insyaallah kedepannya ia akan menjaga sendiri, maka sebagai orangtua kita sudah berupaya melindungi anak kita dari jatuh kepada liang kemunafikan dari beranggapan nanti didewasanya bahwa agama hanya pelengkap dikolom identitas.
Dan tidak tanggung-tanggung, ancaman bagi kaum munafikin bukan hanya dimasukkan ke dalam neraka, namun ditempatkan didasar kerak api neraka, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (QS An Nisaa: 145)
5. Shalat Adalah Amalan yang Pertama Kali di Hisab
Mari pahamkan kepada anak, bahwa shalat memiliki pertanggungjawaban yang berat di akhirat kelak, yang mana ia merupakan amalan yang pertama kali di hisab di akhirat kelak, jika seorang anak muslim lulus pada perkara shalat ini, maka kemudian perkara lainnya Insyaallah menjadi lebih mulus urusannya.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
( إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ)
“Sesungguhnya yang pertama kali ditanyakan dari seseorang hamba dari amalannya pada hari kiamat adalah shalatnya, yang mana apabila shalatnya bagus, maka ia akan beruntung dan dimudahkan, dan apabila shalatnya buruk, maka habislah harapan dan merugi”. (HR Abu Dawud dll)
6. Shalat Adalah Benteng Pertahanan
Jika anda mengaku menyayangi anak anda, maka jaga shalatnya, mengapa? Karena shalatlah yang kelak menjaga anak anda jika suatu hari ia tidak berada didekat anda lagi, ketika ia jauh, merantau, hidup sendiri, atau bergaul bersama teman-teman diluar, siapa yang menjamin bahwa ia akan kuat menahan dirinya dari maksiat dan hal-hal buruk lainnya? Maka shalat adalah jawabannya, Allah Ta’ala berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Ankabut: 45)
Terakhir, sebagai orang tua, hal yang paling diidamkan adalah memiliki anak saleh dan solehah  yang akan berbakti selama anda hidup dan mendoakan anda kelak sepeninggal anda. Maka, untuk mendapatkan itu semua tidak semudah membalikkan telapak tangan atau mencopas tulisan, namun dengan keseriusan dan perhatian, anak anda hanya akan mencontoh apa yang anda lakukan bukan yang anda katakan, maka dari mulailah menjaga shalat dari diri anda sebagai suami istri, dan tunjukkan efek positifnya kepada anak, dan ajak mereka shalat bersama-sama, dengan begitulah berhasil Insyaallah apa yang anda dambakan.
Muhammad Hadhrami Achmadi
di sadur dari hisbah.net

Kamis, 06 April 2017

Sepucuk Surat Harapan Untuk Bapak Dan Ibu Guru Dari Anak-Anak Kami

Sepucuk Surat Harapan Untuk Bapak Dan Ibu Guru Dari Anak-Anak Kami

surat.jpg
Kita ketahui bersama bahwa pembentukan pribadi seorang anak bergantung dengan tiga faktor berikut: Rumah, Sekolah dan Media. Diantara ketiganya, faktor sekolah dapat dikatakan sangat dominan, pernah suatu kali aku bertanya kepada murid-murid: “siapa sosok yang kalian anggap berpengaruh pada kehidupan kalian?”, ternyata kebanyakan menjawab: “Bapak Guru Fulan!”.Ini memang masih subyektif  jika dikatakan faktor sekolah adalah yang paling mendominasi ketimbang dua faktor lainnya, apalagi faktor pertama yaitu rumah/keluarga. Fakta dilapangan juga menunjukkan hal yang demikian, bahwasanya bilamana terdapat seorang guru yang membekali dirinya dengan karakter/akhlak yang baik (supel misalnya), berawawasan luas,dan menunjukkan perhatiannya untuk orang-orang disekelilingnya, maka tak disangsikan lagi dirinya akan diterima dengan baik cepat atau lambat.
Maka dari itu, berangkat dari rasa kepedulianku dengan pendidikan anak-anak kita kutuliskan sepatah dua patah kata berikut untukmu wahai bapak dan ibu guru:
  1. Sadarilah Pak/Bu guru sekalian, bahwa sebenarnya kalian sedang menjaga benteng dan garis batas pertahan terakhir dari umat islam yang mana mereka mempercayakannya kepada kalian, apa yang kan kalian perbuat untuk itu?
  2. Tuluskan niat bapak dan ibu guru sekalian dalam tugas ini, karena sesungguhnya kalian sedang menyemai bibit-bibit amalan jariyah.
  3. Allah Ta’ala berfirman pada surat al isra’ ayat 80:
“Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan cara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. Maka niatkanlah disetiap kali engkau datang dan pulang mengajari mereka demi ridho Allah Ta’ala.
  1. Patut Bapak dan Ibu guru sadari bersama, bahwasanya kalian sedang dielu-elukan oleh penduduk langit sebab jerih payah kalian: berilmu, mengamalkan dan mengajarkannya.
  2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah, Malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan, senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”. (HR. at-Turmudzy).
Mungkin orang-orang melihat pekerjaan Bapak dan Ibu guru ini mudah dan sederhana, tapi mereka tidak tahu akan keutamaan ini, bagaimana bisa? Sangat bisa! Bukankah mengajarkan ilmu yang bermanfaat salah satu amal jariyah?.
  1. Raihlah pahala tiada henti untukmu wahai guru dengan mengajak anak-anak muridmu kepada kebaikan, nasehati siapa yang meninggalkan shalat, melawan kepada orang tua dsbg yang mana jika mereka menyambut nasehatmu, maka engkau akan mendapatkan kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه))
Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya” (HR Muslim).
  1. Motivasilah anak didikmu untuk memperbanyak hafalan Al Qur’an dan Hadits, seperti dengan membuatkan kelompok belajar bagi mereka.
  2. Pahamilah tentang keharusan berlemah lembut dan kapan boleh bertindak dengan tegas, karena masing-masing ada waktu dan tempatnya, jadi bersikap luwes lah.
Rasulullah bersabda:
حُرِّمَ عَلَى النَّارِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ قَرِيبٍ مِنْ النَّاسِ
” Akan diharamkan neraka bagi orang yang mudah, lembut,dan gampang”  (Musnad Ahmad).
  1. Berkata seorang yang bernama Khalid bin Mi’dan: “Jika pintu suatu kebaikan dibuka, maka bergegaslah kepadanya, karena ia tidak tahu kapan pintu tersebut ditutup kembali”.
Maka gunakanlah kesempatan ini sebaik mungkin wahai guru, dan itu untuk kebaikan akhirat anda juga. Karena kan datang masanya tiap-tiap orang kan ditanya mengenai ihwal kehidupannya selama didunia, dan dirimu wahai guru jangan sampai melalaikan tugas anda sekarang ini.
Jadikan profesi ini proyek andalan anda! Mengapa? Para pencari dunia saja selalu memprioritaskan proyek yang sedang mereka kerjakan, kenapa kita sebagai pencari akhirat mau kalah dengan mereka?!? Karena inilah perniagaan yang sebenarnya!
Jujurlah kepada Allah, maka Ia akan membukakan setiap yang tertutup untukmu, memudahkan apa yang sulit, dan memberkahi bagimu waktu dan rezekimu.

 by  in 

Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari artikel berbahasa arab pada situs hisbah Arab Saudi, Almohtasb.com. ditulis oleh Syaikhah Qasim dengan judul: “Risalah Ilaa Mu’allim/Mu’allimah”, link: http://mohtasbat.almohtasb.com/main/page.aspx?id=0316762&article_id=19461
Artikel : www.hisbah.net

Selasa, 07 Februari 2017

Seni Melindungi Anak Dari Kebiasaan Buruk


Anak.jpg
Seorang wanita muslimah seketika ia menjadi istri dari seorang lelaki saat itu pula ia harus bersiap-siap untuk menjadi seorang ibu. dua tugas berat yang memenuhi kedua pundaknya. bagaimana ia harus menjadi istri yang shalihah bagi suaminya dan ibu yang madrasah bagi anak-anaknya. dua tugas yang mana jika tidak dipahami dengan baik hakekat keduanya, maka akan sangat memberatkan hati seorang wanita yang sebelumnya bebas untuk dirinya sendiri. namun tugas-tugas tersebut bagi yang memahaminya, maka ia adalah sebuah keberkahan tersendiri bagi seorang wanita, bagaimana ia harus melayani suaminya sebagai surga dan nerakanya, dan bagaimana ia mendidik keturunannya sebagai aset yang berharga di akhirat kelak, anak saleh yang mendoakan.Pada kesempatan kali ini, kita kembali membahas bagian kedua dari tugas seorang wanita yang sudah menikah, yaitu kewajiban untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. kenapa menjadi ibu yang baik adalah sebuah kewajiban? karena disebabkan oleh suatu hal yang diketahui oleh kita semua, salah satunya adalah anak sebagai sumber kebahagiaan atau kesengsaraan kita dimasa tua dan diakhirat kelak.
Mendidik buah hati memang butuh kesabaran yang lebih, memerlukan keterampilan yang mumpuni, karena tak jarang perilaku anak jika tak dilihat dengan mata hati maka ia hanyalah sumber kejengkelan ditengah menumpuknya kerjaan rumah. maka dari itu, berikut ada beberapa tips dari tuntutan islami dalam membiasakan kebaikan bagi anak dan bagaimana cara menyikapi tingkah laku anak yang tak sesuai dengan apa yang sudah diajarkan padanya:

  1. Fase Pengenalan
Pada fase ini sang buah hati yang sudah mulai mengerti diperkenalkan dan diberitahukan beberapa hal mendasar dalam islam, apa-apa yang harus ia ketahui dari masalah aqidah, seperti keesaan Allah Ta’ala dan kemahakuasaan-Nya dll, juga apa-apa yang tak boleh ia lakukan, seperti mencuri, berkata buruk dll dimulai dari yang sederhana dan secara umum tidak detail. ini sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad yang mana suatu hari pernah mengajari keponakannya Ibnu Abbas beberapa perkara aqidah seperti tidak bolehnya meminta kepada selain Allah dan tak memohon pertolongan dari selain-Nya.
Untuk fase ini, gunakanlah metode yang lemah lembut, penuh kasih sayang dsbg untuk menarik simpatik dan kemauan anak untuk melakukan arahan kita, karena ini adalah fase pengenalan, dari yang sebelumnya belum tahu apa-apa, maka tidak seyogyanya sang buah hati langsung dihardik dll.

  1. Fase Teguran
Ketika dirasa sang buah hati telah mendapatkan penjelasan yang cukup tentang apa-apa yang bunda ajarkan, ketika ia keliru atau terlalu coba ingat kan, jangan biarkan lagi. namun tegurlah dengan lemah lembut juga, baik-baik bukan langsung menghardik saja, karena anak kecil sejatinya belum wajib untuk hal-hal tersebut, namun hanya bagian dari pembiasaan saja yang mana ini ada kewajiban dari orang tua, maka gunakanlah cara yang baik pula untuk mendapatkan hasil yang baik pula. salah satu contohnya adalah ketika Nabi menegur cucunya Hasan ketika hendak memakan korma sedekah, Nabi terangkan bagi cucu tercintanya tersebut bahwa Nabi dan keluarganya tidak memakan dari yang sifatnya sedekah.

  1. Fase menggunakan tangan
Metode ini hanya digunakan pada kebutuhan mendesak saja, untuk memberikan efek jerah. bukan tiap kali melihat kesalahan maka harus ditindak lanjuti dengan tangan.
seperti dahulu para sahabat dengan tegas merobek pakaian-pakaian anak lelaki mereka yang terbuat dari sutra, karena perkara tersebut sudahlah mafhum.

  1. Dengan pukulan
Inilah metode yang menempati salah satu level terakhir dalam mendidik anak-anak, yang juga hanya digunakan sesekali untuk memberikan efek lebih ketika isyarat, kata-kata tak lagi dihiraukan oleh anak-anak. namun perlu digaris bawahi juga bahwa jangan sampai pukulan tersebut sangat menyakiti, karena dikhawatirkan hanya akan meninggalkan sebuah luka pada psikis sang buah hati, dengan pukulan yang pedih mungkin iya sang anak akan berhenti seketika itu juga, namun ia hanya akan menjadi mengumpat didalam hati dan mencari-cari kesempatan selanjutnya untuk melanggar lagi. pada metode ini salah satunya yang dicontohkan Nabi adalah perintah membiasakan anak-anak menegakkan shalat, pukul seperlunya ketika mereka mangkir dan menolak.

  1. Sesekali jangan hiraukan
Sesekali tak mengapa bagi bunda untuk mencuekkan dan sedikit menghiraukan sang buah hati ketika ia meminta sesuatu, ini sebagai pelajaran baginya bahwa jika ia menginginkan sesuatu maka sebagai gantinya ia harus meninggalkan kebiasaan buruk tersebut dst.
Inilah 5 fase yang mana para orangtua harus mendalaminya dan menguasainya, kenapa? agar tak terjadi dua hal yang sering sekali terjadi, antara terlalu sayang anak hingga kadar berlebihan memanjakannya, dan antara terlalu keras dalam mendidik anak-anak hingga kadang tak memperdulikan lagi hak-hak mereka sebagai anak kecil, seperti perlunya mereka mendengar kata-kata sayang dari orang tuanya, jam bermain yang cukup, dll.
Semoga artikel yang singkat ini dapat memberi manfaat bagi kaum muslimah sekalian, sekaligus penulis ingin kembali mengingatkan bahwa ibu-ibu sekalian adalah tonggak harapan tercetaknya generasi penerus yang berguna bagi Agama dan Bangsa, jangan sepelekan hal ini.
Wassalamu’alaikum.
Penulis: Muhammad Hadhrami Bin Ibrahim
Rujukan:
الاحتساب على الأطفال ص ٧٣-٧٤ بالتصرف
تأليف: د. فضل إلهي
Artikel : www.hisbah.net